Pengunjung

Jumat, 04 Oktober 2019

Polisi Pukuli Mahasiswa, Begitukah Cara Aparatur Negara Mengayomi Rakyat?

Polisi Pukuli Mahasiswa, Begitukah Cara Aparatur Negara Mengayomi Rakyat?

     #HidupMahasiswa menduduki trending topic worldwide di media social twitter baru-baru ini. Aplikasi berlogo burung biru tersebut memang banyak digunakan oleh khalayak muda terutama mahasiswa. Hal ini berawal dari aksi demonstrasi yang telah yang dilakukan oleh mahasiswa di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Gejayan pada hari Senin, 23 September 2019. Tujuan kegiatan tersebut tidak lain berupa penolakan dan penundaan RUU KUHP yang beberapa hari lalu dicanangkan oleh pemerintah. Menurut rakyat isi RUU KUHP tersebut sangatlah tidak relevan sehingga mahasiswa mewakili masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintah.


     Tak hanya mahasiswa Yogyakarta saja, melainkan di berbagai daerah terdapat aksi yang serupa. Mahasiswa di berbagai daerah menyuarakan aspirasi mereka di depan kantor pemerintahan daerah setempat. Puncaknya berada di Senayan, Jakarta. Mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia berkumpul dan bersatu untuk demonstrasi penolakan RUU KUHP. Pendemonstran membawa tulisan-tulisan yang berisikan tentang penolakan RUU KUHP, dengan sarkasme tulisan tersebut semakin ngena. Ada yang serius sampai dibuat lelucon atau jokes ala sobat twitter.

    Polisi diturunkan ke jalan untuk mengondusifkan acara demo agar berlangsung dengan damai. Mahasiswa mulai memanas karena tidak ada satupun wakil rakyat yang keluar untuk menemui mereka. Padahal mereka sudah menggelorakan semangat terbaik mereka, rela untuk berpanas-panasan, berdesakan satu dengan yang lain hanya untuk Indonesia lebih baik. Semakin lama melakukan aksi semakin lelah jiwa dan raganya, sehingga memuncaklah emosi mereka dan memaksa masuk ke halaman gedung DPR RI. Polisi menjaga ketat pintu gerbang masuk, namun mereka semakin tersulut emosinya sehingga terjadilah baku hantam antara mahasiswa dengan polisi.

    Polisi menyemprotkan water canon kepada pendemonstran yang dimaksudkan agar emosi mereka mereda. Namun nahas, beberapa mahasiswa terselungkur di tanah akibat tingginya tekanan air yang mengenai mereka. Padahal kebakaran berada di daerah Riau tetapi malah menyemprotkan airnya ke mahasiswa. Kan sayang airnya, lebih baik untuk meredam kebakaran hutan. Mahasiswa tidak butuh air, mereka hanya butuh aspirasinya didengar. Selain itu, polisi juga menembakkan gas air mata yang membuat para mahasiswa berlarian mencari tempat aman. Saling menginjak satu sama lain. Ada yang masuk ke dalam mall, bermaksud untuk menyelamatkan diri namun justru menjadi kejaran polisi dan dipukuli.

    Beberapa mahasiswa mendapat pukulan dari polisi membuat mahasiswa lain tidak terima sehingga melawan balik polisi tersebut, entah dengan melemparinya dengan botol plastik atau berusaha untuk menghancurkan mobil polisi. Keadaan semakin parah. Masyarakat yang sedang berada di jalan karena terkena macet juga menjadi sasaran pukul oleh polisi. Dalam sebuah tayangan di twitter terdapat demonstran dari beberapa universitas menyenandungkan nada “Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi. Pak polisi, pak polisi jangan tembak kami lagi”. Sangat disayangkan, polisi yang tugasnya mengayomi rakyat justru anarkis. Apabila dimaksudkan untuk meredam amarah, ada cara yang lebih baik dari itu sehingga korban tidak bermunculan.

   Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Mahasiswa sebagai penggerak. Jangan remehkan kekuatan mereka. Mahasiswa bersatu untuk Indonesia maju. (uny.ac.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perkataan menonjolkan kepribadian