Pengunjung

Jumat, 04 Oktober 2019

Keimanan? Bisa Diukur?


Keimanan? Bisa Diukur?

    Keimanan merupakan suatu hal yang dasar untuk dimiliki tiap umat beragama, terkhusus agama Islam. Setiap individu memiliki tingkat keimanan yang berbeda. Apakah tingkat keimanan seseorang dapat diukur? Jika dapat, bagaimana cara mengukurnya? Apakah dengan kita melaksanakan ibadah wajib setiap hari berjamaah di masjid dapat dikatakan bahwa tingkat keimanan kita sudah tinggi? Lalu bagaimana? Keimanan bisa bertambah dan berkurang sehingga yang bisa mengukurnya adalah diri sendiri. Seseorang akan merasa keimanan berkurang ketika berbuat maksiat sedangkan bertambah ketika melaksanakan perintah-Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
“maka perkataan itu menambah keimanan mereka” (Ali Imran :173)
“supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (Al Fath:4)
Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda :
“akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illaahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) ‘, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji sawi”

Dari dalil di atas kita dapat menyimpulkan bahwa keimanan itu bertingkat-tingkat. Keimanan dapat bertambah maupun berkurang berdasarkan apa yang kita lakukan.

   Keimanan seseorang memang dapat berubah. Tergantung terhadap apa yang kita lakukan. Apabila kita melakukan ketaatan maka keimanan kita meningkat, sedangkan apabila kita melakukan kemaksiatan maka keimanan kita menurun. Semua kembali kepada diri masing-masing. Apakah kita akan meningkatkan keimanan kita atau malah menurunkan tingkat keimanan. Tingkat keimanan dapat berubah kapan saja. Agar keimanan kita meningkat supaya tidak sekedar menetap segitu-segitu saja, kita bisa ikut kajian yang hampir setiap hari ada di sekitar kita. Malas gerak alias mager? Bisa kita mengikuti kajian lewat media daring, seperti Youtube. Zaman sekarang ngga ada alasan lagi untuk males-malesan, yang terpenting adalah niat dan kemauan.


    Umat islam sendiri memiliki enam keimanan yang harus diyakini (rukun). Iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qada’dan qadar. Dari keenam iman tersebut sudahkah kita meyakini keimanan tersebut? Mungkin beberapa dari kita sudah sangat yakin tapi, apakah Anda sendiri sudah yakin? Hanya diri masing-masing yang tahu. 

Referensi diambil dari modul PAI(uny.ac.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perkataan menonjolkan kepribadian